Infeksi Cacing Hati pada Hewan Ternak (Fasiolosis)

By: drh. Cahya Purnamasari ( Cawid BBPP Kupang)

Fasiolosis atau yang sering disebut juga dengan infeksi cacing hati merupakan manifestasi infeksi cacing dari spesies Faciola hepaticadanFaciolagigantica (Dietrich, 2015).

Di Indonesia fasciolosis pada ternak di sebabkan oleh Fasciola gigantica dan kejadiannya lebih sering pada sapi dan kerbau daripada domba dan kambing dengan sebaran yang luas terutama dilahan-lahan basah (Martindah dkk,2005).Tercatat bahwa kerugian di seluruh dunia pada produktivitas ternak karena fasciolosis diperkirakan lebih dari US  $ 3,2 milyar per tahun, sedangkan di indonesia secara ekonomi kerugiannya dapat mencapai  Rp 513,6 milyar/tahun (Anonymous, 1990). Selain itu, fasciolosis sekarang dikenal sebagai penyakit yang dapat menular pada manusia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)memperkirakan bahwa 2,5 juta orang terinfeksi oleh Fasciola Sp, dan 180 juta orang berada pada resiko tinggi infeksi (Purwono, 2010).

Faciolosis merupakan penyakit yang banyak menimbulkan kerugian ekonomi berupa penurunan berat badan dan karkas, produksi susu, gangguan reproduksi hingga kematian (de Yesus, 1938).Fasiolosis di Indonesia secara umum disebabkan oleh Faciolagigantica. Tingkat penyebaran cacing hati pada ternak menunjukkan angka kasus yang cukup tinggi, terutama di Negara berkembang, termasuk Indonesia (Kardena, et al, 2016)

Morfologi

Fasciola gigantica adalah parasit yang cukup pontensial penyebab fasciolosis atau distomatosis. Di Indonesia fasciolosis merupakan salah satu penyakit ternak yang telah lama di kenal dan tersebar secara luas. Keadaan alam Indonesia dengan curah hujan dan kelembaban yang tinggi, dan ditunjang pula oleh sifatrnya yang hemaprodit yakni berkelamin jantan dan betina akan mempercepat perkembangbiakan cacing hati tersebut. Cacing  ini banyak menyerang hewan ruminansia yang biasanya memakan rumput yang tercemar metacercaria, tetapi dapat juga menyerang manusia.Cacing ini termasuk cacing daun yang besar dengan ukuran 30 mm panjang  dan 13 mm lebar  (Muhammed, 2008).

Fasciola gigantica bentuknya pipih seperti daun dan habitat utamanya di hati maka dikenal dengan nama cacing hati. Ada tiga cara larva infektif cacing hati setelah masuk ke dalam tubuh sampai ke organ hati hewan yang terinfeksi. Pertama adalah bersama aliran darah, kemudian menembus kapiler darah,terus ke vena porta dan akhirnya sampai ke hati. Kedua, dari lambung (Abomasum) menembus mucosa usus (duodenum), ke saluran empedu dan akhirnya sampai ke parenkhim hati. Ketiga, yang umum terjadi adalah setelah menembus usus menuju peritonium, lalu menembus kapsula hati yang akhirnya sampai ke hati  (Arifin, 2006).

Cacing dalam saluran empedu menyebabkan peradangan sehingga merangsang terbentuknya jaringan fibrosa pada dinding saluran empedu. Penebalan saluran empedu menyebabkan cairan empedu mengalir tidak lancar. Disamping itu, pengaruh cacing dalam hati menyebabkan kerusakan parenchym hati dan mengakibatkan sirosis hepatis. Hambatan cairan empedu keluar dari saluran empedu menyebabkan ichterus. Bila penyakit bertambah parah akan menyebabkan tidak berfungsinya hati (Mohammed, 2008).

Daur Hidup Fasciola hepatica (cacing hati)

Ternak mendapatkan infeksi karena memakan rumput yang mengandung metaserkaria  (Larva Infektif cacing hati) sekitar 16 Minggu,kemudian cacing tumbuh menjadi dewasa dan tinggal disaluran empedu. Cacing dewasa memproduksi telur dan keluar bersama feses. Pada kondisi yang cocok telur cacing Fasciola hepatica akan menetas dalam waktu 9-12 hari pada suhu 26oC  dan mengeluarkan mirasidium, sedangkan telur cacing Fasciola gigantica akan menetas dalam 14-17 hari pada suhu 28oC. Mirasidium memiliki cilia  (rambut getar) dan aktif berenang untuk mencari induk semang antara yang sesuai yaitu siput Lymnaea sp, yang kemudian akan menebus kedalam tubuh siput. Suhu yang diperlukan mirasidium untuk dapat hidup adalah  di atas 5-6oC  dengan suhu optimal 15-24o Cselama waktu 24 jam di dalam tubuh siput,mirasidium akan berubah menjadi sporokista dan8 hari kemudian akan berkembang menjadi redia, satusporokista tumbuh  menjadi serkaria yang dilengkapi ekor untuk berenang dan akan menempel pada benda yang terendam air seperti jerami, rumput atau tumbuhan air lainnya (Martindah, et al. 2005). Cercaria melepaskan ekornya membentuk metacercaria. Metasercaria ini merupakan bentuk infektif cacing Fasciolasp. Metasercaria termakan oleh ternak, metasercaria tersebut akan pecah dan mengeluarkan cacing muda di dalam usus, kemudian menembus dinding usus dan menuju ke hati. Dalam waktu ± 16 minggu akan tumbuh menjadi dewasa dan mulai memproduksi telur (Boray, 1985).

Gejala Klinik.

Fasciolasp, hidup di dalam tubuh ternak yang terinfeksi sebagai parasit di dalam saluran empedu. Hidup dari cairan empedu, merusak sel-selepitel dinding empedu untuk menghisap darah penderita. Cacing dewasa dianggap sebagai penghisap darah yang setiap ekornya mampu menghabiskan  0,2 ml darah setiap hari  (Kusumamiharja, 1992).

Gejala klinik Fasciolosis pada sapi dapat di bagi  menjadi dua bentuk yaitu akut dan kronis  (Anonim, 2004).  Fasciolois akut dapat terjadi mati mendadak tanpa gejala klinis sebelumnya. Pada yang terinfeksi tidak sedikit domba tampak lesu, lemah, anoreksia, pucat oedema pada mukosa dan konjunctiva. Gejala akut pada sapi berupa gangguan pencernakan yaitu gejala konstipasi yang jelas dengan tinja yang kering dan kadang diare, terjadi pengurusan yang cepat, lemah dan anemia, kematian mendadak pada kambing dan domba. Faciolosisberlangsung subakut akibat masuknya metacercaria yang banyak dalam waktu yang panjang mengakibatkan  kelesuan, pertumbuhan terhambat, berat badan menurun, efisiensi pakan menurun. Gejala kronis berupa penurunan produktifitas dan pertumbuhan yang terhambat, pada hewan muda.

Diagnosa

Diagnosa penyakit dapat dilakukan dengan pemeriksaan telur cacing Faciola pada tinja yang berbentuk oval, beroperkulum, berwarna cokelat keemasan (130-150 x 65-90 µm) yang akan ditemukan 10 minggu setelah infeksi. Pemeriksaan feses dengan metode sedimentasi merupakan metode yang paling tepat untuk mendiagnosa Fasciolosis (Kaufmann, 1996). Test serologi, fast elisa adalah cara lain yang mempunyai sensitivitas yang baik hingga 95% dan dapat mendeteksi 2 minggu setelah infeksi (FagbemidanObarisiagbon, 1990, Anonimus, 2000)

Pengendaliandan Pengobatan

Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan mengendalikan siput yang berperan sebagai hospesintermediet. Pengendalian ini dapat dilakukan dengan pemberian drainase yang baik pada sawah, penggunaan hewan pemakan siput (bebek) untuk mengurangi populasi siput, dan juga penggunaan racun anti siput (Kaufmann, 1996).

Pengobatan yang dapat diberikan adalah dengan pemberian obat-obat berikut, antara lain oxyclozanide (10 mg/kg PO), rafoxanide (7,5 mg/kg PO). Selain itu ada beberapa obat yang efektif untuk membunuh cacing muda antara lain nitroxynil (10 mg/kg SC), albendazole (10 mg/kg PO), closantel (5 mg/kg PO), triclabendazole (12 mg/kg PO), netobimin (20 mg/kg PO), clorsulon (7 mg/kg PO). Pengobatandengan interval tertentu (3 -6 bulan) dapat dilakukan sesuai dengan situasi epidemiologi lingkungan sekitar (Kaufmann, 1996).

DaftarPustaka

Anonimus. 2004. BukuPanduan Workshop Penyakit Eksotik dan Penyakit Penting pada Hewan Bagi Petugas Dokter Hewan Karantina. Bogor, 12-15 Januari 2004.Kerjasama Fakultas Kedokteran Hewan dan Badan Karantina Pertanian.

Anonimus. 2006.Fasciolosis.http://dessy1412.blogspot.co.id/2011/05/fasciola-gigantica-sheep-liver-fluks.html. Diakses 25 Oktober 2018

Arifin M., 2006. Pengaruh Iradiasi terhadap Infektivitas Metaserkaria Fasciola Gigantica pada Kambing.Risalah Pertemuan Ilmiah Penelitian dan Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi.

Boray,.J.C. 1985.Fluke of Domestic Animal. Elsevier Science Plubisher, Amsterdam.

Dietrich CF, etal.ZGastroenterol. 2015.nAPR: 53 (4): 285-90.

Fagbemi, B.O and Obarisigbon.1990.Comparative evaluation of the enzyme-linked immunosorbent assay (Elisa) in the diagnosis of natural Faciolagigantica infection in cattle. The Veterinary Quartely, 12:35-38

Kaufmann J. 1996. Parasitic Infections of Domestic Animals a Diagnostic Manual.Birkhauser Verlag. Basel.

Kusumamiharja, S.1992. Parasit dan Parasitosis pada Hewan Ternak dan Hewan Piaraan di Indonesia.Pusat Antar Universitas Bioteknologi Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Martindah, E. Widjajanti S, EstuningsihS.E..danSuhardono. 2005. Meningkatkan Kesadaran dan Kepedulian Masyarakat Terhadap Fasciolosis Sebagai penyakit Infeksius.Wartazoa Vol. 15. Diunduhtanggal 24 Oktober 2018


By :drh Cahya Purnamasari

Views: 912

Posted in artikel peternakan dan pertanian on Oct 22, 2018