Kementan Matangkan Tanam Serentak 10.000 Ha di NTT, Kesiapan Lahan CSR Dipercepat

By: M. Noor TM

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Pusat Pelatihan Pertanian (Puslatan) bersama Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Kupang melakukan peninjauan intensif terhadap lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (01/04/2026).

Kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam mematangkan persiapan menjelang aksi Tanam Serentak seluas 10.000 hektare, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional dan mewujudkan swasembada berkelanjutan. Peninjauan difokuskan pada kesiapan teknis lahan, ketersediaan sumber air, serta distribusi sarana produksi pertanian (saprodi) agar pelaksanaan tanam dapat berjalan optimal dan tepat waktu.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa keberlanjutan swasembada pangan tidak hanya ditentukan oleh capaian produksi jangka pendek, tetapi juga oleh penguatan fondasi struktural melalui program cetak sawah dan optimalisasi lahan (oplah).

“Cetak sawah dan optimasi lahan adalah kunci untuk menjamin ketersediaan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Kita tidak boleh bekerja biasa-biasa saja,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya penguatan peran penyuluh dan peningkatan kapasitas petani dalam mendukung keberhasilan program cetak sawah.

“Program ini bertujuan meningkatkan indeks pertanaman dan mendorong swasembada pangan. Dengan perluasan lahan, peluang peningkatan produktivitas pertanian semakin terbuka,” ujarnya.

Usai meninjau sejumlah titik lokasi CSR di Desa Manusak, Kabupaten Kupang, Kepala Pusat pelatihan Pertanian, Teddy Dirhamsyah, mengungkapkan bahwa kondisi pertanaman di lahan CSR menunjukkan perkembangan yang positif.

“Selama dua hari peninjauan, kami telah melihat enam titik lokasi CSR di Kabupaten Kupang. Secara umum, kondisi lahan sudah terolah dengan baik, termasuk dukungan irigasi dan pengairan yang cukup memadai,” jelas Teddy.

Namun demikian, ia juga mengakui masih terdapat sejumlah kendala teknis di lapangan yang perlu segera ditindaklanjuti guna memastikan keberhasilan program.

“Ada beberapa catatan yang menjadi pekerjaan rumah bersama dan harus segera diselesaikan agar pelaksanaan tanam serentak dapat berjalan sesuai target,” tambahnya.

Kepala BBPP Kupang, Roby Darmawan menegaskan, pemanfaatan lahan CSR merupakan langkah konkret dalam memperluas areal tanam di wilayah NTT yang memiliki karakteristik iklim kering dan menantang.

“Kami memastikan setiap lahan yang tersedia siap diolah secara optimal. Dengan pendampingan teknis dari Kementan, kami optimistis target tanam serentak ini dapat tercapai,” ujarnya.

Adapun fokus utama dalam peninjauan meliputi evaluasi kesuburan tanah dan kebutuhan pupuk spesifik lokasi, kesiapan infrastruktur pengairan, serta penguatan koordinasi dengan kelompok tani dalam penerapan teknologi pertanian modern di lahan CSR.

Program tanam serentak di NTT diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi pangan regional, tetapi juga menjadi model integrasi pembangunan pertanian yang kolaboratif dan berkelanjutan.

Turut hadir dalam kegiatan ini antara lain Kepala SMK-PP Negeri Kupang, perwakilan Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) NTT, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi, Dinas Pertanian Kabupaten Kupang, serta penyuluh pendamping Brigade Pangan.

Dengan persiapan yang terus dimatangkan, Kementerian Pertanian melalui BBPP Kupang berkomitmen menjadikan NTT sebagai salah satu lumbung pangan unggulan di kawasan Indonesia Timur. Aksi tanam serentak dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat.

Dipublikasi Pada : 02-04-2026