By : Eni Mulyanti, S.Pt., M.Si
Usaha penggemukan sapi potong merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat peternakan yang mempunyai prospek yang cerah untuk dikembangkan dimasa depan. Tingginya permintaan daging sapi di Indonesia disebabkan oleh adanya kenyataan-kenyataan yang terjadi, antara lain : jumlah penduduk Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun dengan tingkat pertumbuhan sebesar 1,49% per tahun. Selain itu, konsumsi daging per kapita mengalami peningkatan dari waktu ke waktu sebesar 0,1 kg/kapita/tahun. Akan tetapi keadaan tersebut harus bisa disikapi secara positif. Dengan adanya kebutuhan akan daging sapi yang semakin meningkat, membuka peluang usaha dalam budi daya sapi potong.
Penggemukan sapi pada dasarnya adalah usaha untuk mendayagunakan potensi genetik ternak sapi untuk mendapatkan pertumbuhan bobot badan yang efisien dengan memanfaatkan input pakan serta sarana produksi lainnya, sehingga menghasilkan nilai tambah usaha yang ekonomis. Usaha pemeliharaan sapi pada masa-masa yang lalu, pada umur 2 – 3 tahun baru digemukkan dan selanjutnya dipasarkan. Dewasa ini, sapi-sapi digemukkan pada usia yang lebih muda (12 - 18 bulan) atau paling tua umur 2,5 tahun. Pada saat tersebut, sapi sedang mengalami fase pertumbuhan dalam pembentukan kerangka maupun jaringan daging. Oleh karena itu, apabila pakan yang disajikan memberikan kandungan protein, mineral dan vitamin yang mencukupi, maka sapi tersebut akan menjadi gemuk. Untuk memenuhi kebutuhan zat-zat pakan tersebut, sapi muda yang digemukkan harus diberi pakan pakan penguat yang cukup. Selain itu, sapi yang digemukkan tidak boleh banyak bergerak, apalagi bekerja berat. Sapi yang terlalu banyak bergerak atau bekerja berat akan menyebabkan kelelahan dan mengakibatkan banyak penghancuran protoplasma sel daripada pembentukan serta terjadinya za-zat beracun yang tidak mudah keluar dalam proses oksidasi sehingga menimbulkan keracunan tubuh. Sebaliknya sapi-sapi yang tidak banyak bekerja berat di dalam tubuhnya lebih banyak terjadi proses pembentukan protoplasma daging baru. Selain itu, sisa-sisa pembakaran seperti ureum dan garam-garaman bisa keluar dengan lancar melalui air kencing, keringat dan kotoran.
Pertambahan bobot badan sapi ditentukan oleh berbagai faktor, terutama jenis sapi, jenis kelamin, umur, ransum atau pakan yang diberikan, dan teknik pengelolaannya. pengaruh ransum atau pakan terhadap pertambahan bobot badan sudah ditunjukkan oleh berbagai hasil penelitian. Sapi yang digemukkan hanya dengan pemberian hijauan saja tidak akan mampu mencapai pertambahan bobot badan yang tinggi dan waktu penggemukannya pun relatif lama. Sebaliknya, pemberian ransum yang terdiri dari hijauan dan sejumlah konsentrat akan dapat mencapai pertambahan bobot badan yang tinggi dengan waktu penggemukan yang relatif singkat.
Pemberian konsentrat di samping pemberian hijauan pada penggemukan sapi tidak hanya meningkatkan pertambahan bobot badan, tetapi juga akan meningkatkan produksi karkas. Peningkatan produksi karkas akan berakibat pada harga penjualan sapi yang lebih mahal. Hasil penelitaian menunjukkan bahwa sapi madura, sapi peranakan ongole, dan sapi bali yang diberi konsentrat dan hijauan mampu mningkatkan persentase karkas dari 44,32% menjadi 49,90%. Walaupun terjadi pertambahan biaya ransum dengan pemberian konsentrat, tambahan biaya tersebut pada umumnya masih berada jauh dibawah nilai pertambahan bobot badan yang dicapai.
Efisiensi penggunaan pakan dapat ditentukan dari konversi pakan, yaitu jumlah pakan yang dikonsumsi untuk mencapai pertambahan satu kilo gram bobot badan. Konsumsi pakan atau ransum yang diukur adalah bahan kering sehingga efisiensi penggunaan pakan atau ransum dapat ditentukan berdasarkan konsumsi bahan kering atau ransum untuk mencapai satu kilo gram pertambahan bobot badan. Menurut penelitian yang telah dilakukan, efisiensi penggunaan pakan pada sapi Bali, Madura dan Peranakan Ongole masing-masing adalah 9,8;13,13; dan 13,29; sedangkan efisiensi penggunaan pakan pada sapi Ongole adalah 8,56. Dengan demikian, dilihat dari indikator efisiensi penggunaan pakan, sapi Ongole dan sapi Bali lebih prospektif untuk digunakan sebagai bakalan dalam usaha penggemukan.
