Labi-Labi, Awal Dianggap Hama Kini Bernilai Ekonomi Tinggi

Sumber : pertanianku.com

Labi-labi (Trionyx sinensis) juga dikenal dengan nama bulus. Mulanya, hewan ini dianggap hama, sama seperti belut dan ikan gabus. Saat ini, labi-labi justru bernilai ekonomi tinggi, hampir seluruh bagian tubuhnya dapat dimanfaatkan, baik daging maupun cangkangnya.

Labi-labi berstatus konservasi masuk kategori vulnerable (VIU) yang berarti rentan. Hal ini dikarenakan spesies tersebut rentan mengalami kepunahan di alam liar. Oleh karena itu, peredaran untuk ekspor, konsumsi, dan pemeliharaan sudah diatur.

Hewan bercangkang ini sudah bisa dibudidayakan di dalam kolam. Meskipun masih banyak masyarakat yang menangkapnya dari alam. Masyarakat Bali dan NTB kerap mengonsumsi daging labi-labi. Selain dikonsumsi, daging hewan air ini sering dijadikan minyak yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit.

Labi-labi yang masih hidup sering digunakan sebagai salah satu perlengkapan upacara keagamaan etnis Cina.

Tubuh bulus berbentuk oval atau agak lonjong dan pipih. Tubuhnya tidak bersisik dan berwarna abu-abu kehitaman. Kerapas dan plastron (bagian bawah tubuh yang tidak tertutup cangkang) terbungkus kulit yang liat. Plastron tersebut berwarna putih pucat hingga kemerahan. Hidung labi-labi memanjang berbentuk tabung seperti belalai.

Di alam bebas, labi-labi bernapas dengan paru-paru, baik saat baru menetas maupun sudah dewasa. Hewan ini memangsa ikan dan udang kecil yang berada di sekitarnya. Sementara itu, bulus yang dibudidayakan di dalam kolam bisa diberikan pakan berupa cincangan ikan atau isi perut ternak ruminansia.

Di habitat aslinya, hewan air ini biasanya berkembang biak antara Juli hingga Desember dengan cara bertelur. Labi-labi mampu menghasilkan 10—30 butir untuk satu kali pemijahan. Telurnya berwarna krem berdiameter 2—3 cm. Telur yang sudah keluar akan ditimbun ke dalam pasir dan akan menetas setelah 45—50 hari kemudian.

Ukuran tubuh labi-labi betina relatif lebih kecil dari jantan, terkadang ukuran jantan mencapai dua kali betina. Cangkang betina lebih bulat dan tebal, sedangkan cangkang jantan lebih oval dan tipis. Perbedaan jantan dan betina juga dapat dilihat dari alat kelaminnya. Alat kelamin betina terlihat tumpul, sedangkan jantan lancip.

Jika Anda ingin membudidayakannya di dalam kolam, siapkan kolam sekitar 50—300 m2 dengan ketinggian pematang 1,5—1,75 m. Dasar kolam sebaiknya dilapisi pasir, sedangkan dinding pematang sebaiknya tembok. Pada salah satu sisi kolam dibuatkan kandang/sarang telur seluas 2 m × 2 m × 1 m sebanyak 3 buah. Kandang tersebut dihubungkan dengan jembatan penghubung yang terbuat dari anyaman bambu atau papan agar induk mudah masuk ke dalamnya.

Dipublikasi Pada : 07-12-2023